Anak Berbakat yang Sulit Belajar, Ini Stimulasinya! (III)

1131554pJumat, 30 Oktober 2009 | 11:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Anak atau siswa yang keberbakatannya tertutupi oleh kesulitan belajarnya ternyata banyak dipengaruhi oleh lingkungan teman sebaya, pola asuh dalam keluarga, kondisi sosial ekonomi, serta harapan orang tua akan masa depan si anak.

Tak mudah memang, tetapi ada solusi yang sepatutnya bisa dilakukan. Beberapa solusi setelah orang tua dan pendidik memahami adanya perbedaan antara keberbakatan dan ketidakmampuan anak/siswa didiknya, serta mengenali ciri-ciri potensi misdiagnoses tersebut. Yaitu, langkah-langkah sederhana sebagai stimulasi menghadapi anak-anak dengan kemampuan otak berbakat (gifted brain) namun sekaligus juga menunjukkan ketidakmampuannya (disability).

“Sesuatu yang ada di dalam diri seseorang anak, itulah yang perlu dikeluarkan, yang semestinya diekspresikan,” kata Socrates. Namun kiranya, ucapan filsuf Yunani tersebut perlu dijadikan pegangan sebelum memulai langkah-langkah yang perlu diambil di sini. Lima langkah yang justeru akan berpulang pada kondisi si anak itu sendiri.

Memang, stimulasi yang diperlukan adalah langkah-langkah yang cenderung tidak bersifat memaksakan kehendak. Seperti pernah disebutkan oleh psikolog Dr Rose Mini A.P, M.Psi dalam makalahnya tentang “Keberhasilan Pendidikan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya”, beberapa stimulasi tersebut antara lain:

– Jangan pernah membandingkan antara satu anak dengan yang lainnya. Camkan, bahwa setiap anak berbeda, baik dari segi kecepatan belajar, gaya belajar, dan pencapaian hasil atau lain-lain yang berhubungan dengan proses anak menyerap ilmu atau pelajaran yang diberikan.

– Rangsang, –bukan “ajarkan”, anak untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan, terutama kreativitasnya. Persepsikan, bahwa sekecil apapun kreatifitasnya adalah hal yang sangat positif, baik buat dirinya maupun lingkungan di sekitarnya.

– Tularkan tentang pemahaman-pemahaman moral dan indahnya bersosialisasi di luar lingkup sehari-hari si anak. Ingat, Anda hanya “menularkan”, bukan mengajarinya bersosialisasi, saling menghargai, atau menghormati sesama individu. Alhasil, aksi nyata berupa contoh-contoh sikap dan perilaku sangat diperlukan, dan itu semua harus dimulai dari diri Anda sebagai orang tua atau pendidik.

– Fokuskan pada proses dan penugasan ketimbang perolehan hasil. Perlu diingat, bahwa hasil yang optimal akan dapat dicapai oleh si anak saat mereka menguasai kemampuan yang memang dibutuhkannya

– Kenali berbagai kebutuhan mereka tersebut lewat aktivitas, hobi, atau kegemarannya. Dari sinilah orang tua atau pendidik mudah mengenali potensi yang dimiliki guna melihat perkembangan yang lebih optimal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s