Tubuh Michael Jackson Disimpan di Lemari Es Rahasia

Kapanlagi.com – Katherine, ibu almarhum Michael Jackson sengaja meminta agar jasad putranya disimpan di tempat di mana ia bisa mengunjunginya secara pribadi tanpa gangguan siapapun, termasuk media.

Sebelum dipindahkan, jasad Michael disemayamkan di pemakaman keluarga milik Berry Gordy Jr, Hollywood. Dan menurut penjaga pemakaman, minggu lalu jasad Michael dibekukan di lemari pendingin dekat Freedom Mausoleum.

Peti emas Michael kemudian dibungkus kembali dengan kain sutera khusus agar melindungi peti dari kebekuan.

Setelah dipindahkan, Katherine sempat mengunjungi makam Michael beberapa kali. Dan ia terdiam di dalam makam hingga menggigil kedinginan. “Dia menangis dan berulang kali meminta maaf serta mengatakan betapa ia mencintai Michael,” tutur sebuah sumber.

Hingga berita ini ditayangkan, kejelasan jasad Michael tak diketahui letaknya. Katherine sengaja menyimpan rahasia ini untuknya sendiri. Ia tak rela jika jasad anaknya dibaringkan di pemakaman yang dapat dikunjungi fans, agar tak ada fans yang mencuri jasad putra tercintanya itu. (bang/bee)
michael_jackson_hitsville

Kehilangan Mbah Surip

2156264pSelasa, 4 Agustus 2009 | 12:31 WIB

Mbah Surip, penyanyi fenomenal yang mendadak terkenal karena lagu “Tak Gendong” itu meninggal dunia hari Selasa (4/8) ini pukul 10.30. Beberapa kenangan atas penyanyi berambut gimbal itu dituliskan oleh wartawan Kompas.com, Jodhi Yudhono. Inilah salah satunya:

KEMBALI saya “kehilangan” kawan. Jika dulu saya “kehilangan” seorang kawan bernama Iwan Fals, maka kini saya harus ikhlas “kehilangan” Mbah Surip. Hilangnya kedua kawan itu saya kira sama musababnya: popularitas. Makhluk bernama popularitas itu begitu teganya merenggut kawan-kawan saya satu demi satu. Tentu, bukan kepopuleran semata yang membawa pergi kawan-kawan saya. Sekumpulan manusia bernama manajemen artis yang berada di belakang kepopuleran mereka itulah yang menurut saya menjadi pangkal hilangnya kawan-kawan saya.

Atas nama profesionalitas, atas nama perlindungan terhadap artis, dan entah atas nama apalagi, manajemen artis yang mengurusi kedua kawan di atas telah menjauhkan mereka dari saya sebagai seorang kawan ngobrol yang mengasyikkan.

Bersama Iwan saya pernah melewati malam-malam Kota Jakarta, bikin lagu bersama, ngomong ngalor ngidul soal apa saja di sembarang tempat. Pun begitu dengan Mbah Surip. Entah telah berapa malam pernah saya lewati bersama Simbah berambut gimbal itu di Bulungan, Jakarta Selatan, sambil nyruput kopi, nyanyi bersama, ngobrol hal yang aneh-aneh, bercerita tentang wanita pujaan…. Dan jika ia tak tampak di Bulungan, saya tinggal menelepon dia. Jika tak jauh jaraknya dari Bulungan, Mbah Surip dengan ringan hati segera muncul menemui saya sambil berucap: I love full… he-he-he….

Tapi sejak lagu “Tak Gendong ke Mana-mana” meledak, saya kehilangan jejaknya. Pernah sekali saya telepon, dengan tergesa-gesa dia menjawab, “Aku mau naik panggung, wis yo…” Setelah itu, tiap kali ditelepon, tak pernah lagi ia mengangkatnya.

Neng endi kowe Mbah?

Saya kini cuma bisa memandang Mbah Surip yang muncul di hampir semua stasiun televisi. Sekali pernah saya melihat Simbah sedang berkendara mobil baru, lalu di lain waktu dia sedang berada di rumah dan kantor barunya, waktu lainnya dia sedang memberikan statement, lantas di media saya baca berita lagu Simbah telah menghasilkan Rp 4,5 M lewat RBT. Wah… luar biasa.

Meski “kehilangan” dirimu Mbah, sungguh aku tetep senang. Itu artinya sampean tak lagi kepanasan dan kehujanan, seperti waktu kamu menyusuri jalanan Ibu Kota dengan sepeda motormu yang kau kasih nama Harley Davidchiang itu. Dan tidurmu boleh jadi kini lebih tertib lantaran ada rumah yang siap menaungi, tak seperti dulu saat kamu tidur di sembarang tempat di Bulungan. Inget enggak Mbah, waktu itu bukan cuma nyamuk yang membikin tidurmu tak nyaman, tapi juga berebut dengan kawan-kawan untuk mendapatkan tempat tidur yang nyaman.

Aku ikut seneng Mbah, sungguh. Pernah pula aku dengar belakangan kamu juga rajin berbagi rezeki kepada kawan-kawan di Bulungan jika kau pergi ke sana. Bagus itu Mbah, itu pertanda hatimu tetap baik, pun ekspresimu yang tetap biasa-biasa saja saban kali muncul di televisi.

O ya Mbah, gimana dengan Sarinah? Pacarmu yang lulusan SD itu loh…. Ha-ha-ha… lulusan SD di tahun 45 itu loh? Moga-moga kamu tetap setia kepadanya meski wanita-wanita cantik mengitarimu kini.

Tahu enggak Mbah, tiap kali kamu ngga ngangkat telepon jika kuhubungi, aku cuma bisa menghibur diriku sendiri… ini pasti Mbah Surip sedang sibuk, sedang konser, syuting, promosi album….

Tapi aku yakin, Mbah, nanti kalau kamu sudah lega, tentulah kita akan bersama lagi. Ngobrol tentang kopi, rokok, wanita, setan, dan… helikopter yang mau kamu bagikan satu-satu kepada seluruh rakyat Indonesia jika kamu berhasil jadi orang yang amat sangat kaya.

Wis yo Mbah, aku mau tidur… besok setelah bangun, gosok gigi dan senam pagi, ya tidur lagi… he-he-he…. I love full Mbah!

Mbah Surip Wafat

87f4686316975b771da645e5d60e38b8400x280JAKARTA, KOMPAS.com — Mbah Surip, penyanyi yang baru saja melejit namanya lewat lagu Tak Gendong dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (4/8). Pria yang khas dengan gaya rambut rasta itu disebut-sebut meninggal karena serangan jantung.

Sebelumnya, Mbah Surip dikabarkan jatuh pingsan pada Minggu (2/8) malam, setelah kembali dari pentas di Yogyakarta. Menurut Farid, salah seorang asistennya, Mbah Surip sakit lantaran kelelahan akibat padatnya jadwal manggung.

“Mbah Surip sakit karena minum dengan es batu. Sepertinya tidak cocok dengan perutnya, makanya agak sakit perut dan badannya agak panas dan demam,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari puhak terkait. Kabarnya pula, jenazah Mbah Surip saat ini berada di RS Pusdikes, Jakarta Timur. (EH)

Sebelum Wafat Mbah Surip Sempat Pingsan

19072009671400x280JAKARTA, KOMPAS.com — Sebelum menghembuskan napasnya terakhir, Selasa (4/8) pada pukul 10.30 WIB, Mbah Surip sempat mengalami pisang. “Tadi sempat main ke rumah temannya, Mamiek Prakoso. Dia sempat pingsan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusdikes,” kata Rina, project officer Falcon, yang menangani Mbah Surip di label tersebut, kepada Kompas.com, Selasa siang.

Rina belum bisa memastikan apakah Mbah Surip meninggal dalam perjalanan atau sudah berada di rumah sakit. “Penyebabnya diduga serangan jantung,” ujar Rina.

Hari Minggu lalu, lanjut Rani, Si Mbah memang sempat jatuh pingsan lantaran kecapaian akibat jadwal manggung yang cukup padat. “Hari Minggu memang sakit, sempat dibawa ke dokter dan dinyatakan hanya masuk angin. Mbah Surip hanya butuh istirahat,” katanya.

“Job-job off air Mbah Surip akhirnya kita cancel, menunggu kesembuhan Mbah. Malah, hari ini seharusnya tampil di stasiun Trans TV dicancel karena belum sehat,” papar Rina.

Hingga berita ini diturunkan, Rina mengaku belum mengetahui pasti kapan dan di mana Mbah Surip akan dimakamkan. “Kita masih berkordinasi untuk tempat pemakaman beliau,” ujarnya. (EH)

Mbah Surip Simbol Rakyat Yang Menghibur Diri Sendiri

JAKARTA, KOMPAS.com – “Tak gendong ke mana-mana… Tak gendong ke mana-mana… Enak to….” lagu bertajuk Tak Gendong, belakangan ini laris seantero dunia. Apalagi dengan sosok penyanyi sekaligus penciptanya, Mbah Surip. Rencananya, Mbah Surip akan konser ke India pekan depan. Namun, sebelum berangkat, Mbah Surip menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pendidikan dan Kesehatan, Jakarta Timur.

Pria yang selalu tampil dengan topi dan rambut gimbalnya itu meninggal karena sakit, diduga serangan jantung, pukul 10.30 Selasa (4/8). Bagaimana sosok Mbah Surip di mata masyarakat?

Mantan politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Agus Condro menilai Mbah Surip merupakan cerminan rakyat yang menghibur dirinya sendiri dengan musik ringan.

“Kehadiran Mbah Surip, menghibur rakyat yang bingung terhadap tekanan ekonomi dan peristiwa politik saat ini. Apalagi musiknya enak di kuping, bahasanya enak, bahasa rakyat. Mbah Surip itu simbol rakyat yang menghibur diri sendiri dengan musiknya,” ujar Agus Condro kepada Kompas.com, Jakarta, Selasa (4/8).

Mahasiswa Universitas Esa Unggul, Irma, menyayangkan kematian Mbah Surip. Baru beberapa bulan ini, Mbah Surip dikenal masyarakat luas. “Kasihan… Dia kan baru sebentar terkenalnya. Apalagi lagunya unik-unik. Musik di Indonesia saat ini kan cenderung menjemukan. Sayang sekali… Tapi salut, Mbah Surip meninggal saat di puncak kejayaannya,” tutur dia.

Begitu pula dengan Aulia, seorang pegawai swasta di kawasan Jalan Sudirman. Menurut dia, Mbah Surip merupakan tokoh fenomenal. Meski Mbah Surip meninggal, dia percaya akan lahir pembaharu sepertinya