Jadwal PSB Mundur, RSBI Pakai Manual

sekolahSURABAYA – Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya ternyata tidak menutup telinga. Instansi pimpinan Sahudi itu merespons keluhan masyarakat yang menginginkan pembenahan sistem pendaftaran siswa baru (PSB). Akhirnya, jadwal PSB Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan PSB rekomendasi diundur. Selain itu, PSB RSBI tak lagi pakai sistem online. Sistemnya ”mundur” ke cara manual.

”Keputusan itu muncul karena berbagai alasan. Termasuk belum berfungsinya PSB paperless (tanpa kertas, Red) secara maksimal,” ujar Sahudi.

Pendaftaran RSBI yang semula dijadwal 22-24 Juni ”dimolorkan” hingga 26 Juni. Lalu, tes IPA dilaksanakan 28 Juni. Tes matematika dan bahasa Inggris pada 29 Juni dan pengumuman pada 30 Juni.

Soal sistem pendaftaran PSB RSBI, Sahudi lebih suka menyebut berubah menjadi sistem semimanual. Artinya, calon siswa tidak lagi mendaftar dengan ngeklik internet. Mereka harus datang ke sekolah-sekolah yang ditunjuk.

Untuk jenjang SMP, ada delapan sekolah yang ditetapkan sebagai tempat entry pendaftar. Yakni, SMPN 1, SMPN 6, SMPN 3, SMPN 5, SMPN 12, SMPN 22, SMPN 19, dan SMPN 26.

Calon siswa SMA bisa datang ke sembilan sekolah yang ditunjuk. Yaitu, SMAN 5, SMAN 15, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 4, SMAN 6, SMAN 9, SMAN 17, dan SMKN 1.

Di sekolah-sekolah tersebut pendaftar harus menunjukkan fotokopi Surat Keterangan Hasil (SKH) Ujian Nasional atau SKH Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (SKH UASBN). Jika belum ada SKH asli, pendaftar bisa memakai surat keterangan dari sekolah.

Kalau berdasar surat tersebut nilai pendaftar memenuhi syarat, petugas langsung meng-entry data siswa. Peraturan itu bukan hanya berlaku bagi siswa yang belum mendaftar. Sekitar seribu siswa yang telanjur mendaftar secara online pun harus ikut proses itu. Artinya, pendaftaran mereka yang sudah sukses lewat jalur online dianggap tidak pernah ada.

”Kami minta yang telah mendaftar tetap ke sekolah-sekolah yang ditunjuk untuk verifikasi data karena ditakutkan datanya tidak masuk,” ujar mantan kepala SMAN 15 itu.

Menurut Sahudi, ada beberapa data yang dobel. Nah, yang dikhawatirkan, kalau tidak ada verifikasi ulang, pendaftar lewat sistem online itu tidak tercatat.

Khusus bagi siswa luar kota yang akan masuk ke RSBI Surabaya, mereka juga harus memakai cara yang sama. Mereka harus datang secara manual ke sekolah yang ditunjuk Dispendik serta menunjukkan SKH Unas atau SKH UASBN.

”Namun, untuk pendaftar dari luar kota, kami sarankan setelah mendaftar RSBI agar melakukan pendaftaran jalur rekomendasi. Itu untuk berjaga-jaga. Kalau gagal RSBI, mereka masih bisa mendaftar di sekolah reguler,” jelasnya.

Khusus PSB Rekomendasi, prosesnya masih sama dengan sebelumnya. Yaitu online. Waktunya yang diperpanjang. Jika kemarin hanya sampai 25 Juni, waktunya mundur sehari menjadi 26 Juni.

”Yang dari luar kota, kalau mau daftar RSBI langsung ke sekolah yang ditunjuk. Tidak perlu daftar rekomendasi dulu. Rekomendasi hanya untuk jaga-jaga kalau nanti tidak diterima di RSBI,” tegasnya.

Sahudi menjelaskan, karut-marut sistem PSB itu disebabkan beberapa hal. Mulai internet yang lemot hingga entry data yang ngadat. Dari sembilan server yang tersedia, hanya satu yang bisa difungsikan.

Namun, bukan berarti sistem online itu bakal dihapus total. Sistem itu masih bisa dipakai pada sistem pendaftaran PSB reguler. Jadwalnya saja yang diundurkan. Yaitu, 1-4 Juli. Caranya tetap, login menggunakan nomor Unas atau UASBN serta PIN yang muncul.

”Pada saat pendaftaran reguler nanti, kami yakin semuanya selesai dan bisa diperbaiki. Kalau sembilan server jalan, kan tidak ada masalah,” terang Sahudi.

Akibat berbagai problem itu, sejumlah orang tua calon siswa mengeluh. Pendaftaran masuk RSBI, kata mereka, begitu repot. Apalagi, untuk pendaftar dari luar kota. Sebab, mereka harus libur dari pekerjaannya.

Koestiarsono, misalnya. Warga Sidoarjo itu ingin memasukkan anaknya ke RSBI di SMPN 1. Dia merasa, nilai anaknya cukup bagus, yaitu 27,25. Namun, mulai hari pertama pendaftaran, dia gagal mendaftar. Kemarin dia hanya tembus di PSB rekomendasi. ”Tapi kan anak saya inginnya ke RSBI. Dia sudah belajar tes agar bisa bersaing,” ujarnya.

Sejak pagi dia sudah standby di Dispendik untuk mencari informasi. Sementara istrinya di kantor siap-siap di depan internet untuk terus mencoba mendaftar. Dia memang menyayangkan keruwetan yang terjadi. Apalagi, informasi yang didapat terus simpang siur. ”Seharusnya ada orang dari dinas yang keluar dan meminta maaf lalu memberikan solusi,” tegasnya siang kemarin. (sha/dos)
dikutip : jawa pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s