Awas, Banyak Anak dan Remaja yang Kena Kencing Manis Karena Ada Faktor Gen Sensitif

301567494088249101[ Rabu, 24 Juni 2009 ] Awas, Banyak Anak dan Remaja yang Kena Kencing Manis Karena Ada Faktor Gen Sensitif KENCING manis (diabetes melitus) bukan lagi penyakit yang menyerang orang dewasa. Sebab, banyak anak-anak dan remaja yang kena diabetes. Jumlahnya pun cenderung meningkat. — ”Dalam kurun empat tahun terakhir ini, saya sudah menangani sepuluh pasien remaja yang terkena kencing manis. Umur mereka rata-rata 15 tahun,” kata Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro SpPD KEMD. Kepala Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD dr Soetomo itu menerangkan, sepuluh pasien remaja tersebut menderita diabetes melitus (DM) tipe 1 dan 2. Didiagnosis DM tipe 1 bila pasien tersebut sudah bergantung dengan insulin. Sedangkan DM tipe 2 tak bergantung insulin. ”Mudah-mudah susah menangani pasien diabetes remaja. Sebab, meroeka masih belum sepenuhnya bisa mengontrol pola makan dan menerapkan gaya hidup sehat,” paparnya. Diungkapkan dr Soebagijo Adi SpPD-KEMD, penemuan penderita diabetes DM tipe 1 makin muda. “Saya pernah menangani penderita diabetes berusia lima tahun,”jelasnya. Dia mengingatkan, sejumlah gejala diabetes terkadang susah dikenal. “Penderita sering tidak merasakan perubahan signifikan. Jadi, terkadang mereka tidak sadar menderita diabetes,” jelas spesialis penyakit dalam dari RSUD dr Soetomo Surabaya ini. Gejala-gejala diabetes yang mudah dikenali antara lain, sering kencing, rasa lapar dan haus yang berlebihan.Selain itu, penurunan berat badan mendadak atau abnormal, penglihatan kabur, maupun luka susah sembuh. “Serta terjadinya infeksi atau peradangan berulang-ulang, sakit kepala, kelelahan, gatal, dan kulit kering,” lanjutnya. Ditambahkan Askandar, ada beberapa faktor risiko remaja menderita diabetes. Salah satu di antaranya, obesitas. Hal itu ditandai dengan kecenderungan pasien gemuk sejak lahir. Oleh karena itu, ibu yang memiliki riwayat menderita DM dan melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari empat kilogram patut berhati-hati. Sebab, mereka termasuk risiko tinggi menderita DM. Begitu juga, ibu yang menderita DM ketika tengah hamil dan ibu yang orang tuanya menderita DM. ”Bila termasuk faktor risiko tersebut, sebaiknya orang tua bisa melakukan pemeriksaan dini anaknya,” ungkap dr Sony Wibisono SpPD KEMD, dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr Soetomo. Pemeriksaan tersebut berupa cek kadar gula darah puasa, tekanan darah, kadar trigliserida, dan kolesterol (HDL). Sudah menderita DM jika kadar gula darah puasa lebih dari 100 mg/dL. Namun, ada juga remaja menderita diabetes, meskipun tak menunjukkan gejala obesitas. Bahkan, tak ada riwayat keluarga, baik pihak ibu maupun ayah, yang menderita penyakit tersebut. ”Itu berkaitan dengan faktor gen yang sensitif,” lanjut Askandar. Sementara itu, faktor genetik ini pula yang menentukan kondisi pembuluh darah. Jika ada gen yang sensitif, pembentukan pembuluh darah menjadi tak optimal. Akibatnya, pasien akan sakit-sakitan. Askandar juga mengingatkan agar tak meniru pola makan warga asing. Sebab, ada perbedaan gen antara orang Belanda dan Indonesia. Warga Belanda terbiasa sarapan pagi dengan makan dua butir telur tiap hari. Namun, mereka jarang yang menderita diabetes serta stroke. ”Jika kita menerapkan pola makan seperti itu, ya pasti sakit. Sebab, dalam satu butir telur terkandung 300 mg kolesterol,” ungkapnya. ”Lagipula, gen kita dengan warga Belanda berbeda. Ini yang harus diingat,” imbuhnya. (ai/ken/kum/nda)

dikutip: jawa pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s